Secara
bahasa wara’ jika dikatakan, "wara'a yara'u war'an wa wara'an wa wari'atan
adalah menghindari diri dari perbuatan dosa atau menjauhi hal-hal yang tidak
baik dan syubhat. Sedangkan menurut para sufi adalah menghindari segala yang
tidak jelas antara halal dan haram, sedangkan menurut istilah wara’ adalah meninggalkan
yang meragukan, menentang yang membuatmu tercela, mengambil yang lebih
terpercaya, mengarahkan diri kepada yang lebih hati-hati. Singkatnya, wara
adalah menjauhi yang syubhat dan mengawasi yang berbahaya.
sebagian
ulama membagi wara' dalam tiga tingkatan, pertama adalah meninggalkan yang
haram, ini adalah umum bagi semua manuisa, kedua menahan syubhat, ini dilakukan
sebagian manusia, Ketiga meninggalkan, kebanyakan perkara yang mubah dengan
mengambil yang benar-benar penting saja, ini dilakukan oleh para Nabi,
orang-orang yang benar (shiddiqin), para syuhada, dan orang-orang saleh.
Makna
wara tidak terletak pada persoalan bisa atau tidaknya seseorang dalam
menghadapi masalah yang muncul dengan hukum Allah, bukan itu yang dimaksud
dengan wara, karena setiap muslim sekuat tenaga mencari kebenaran dalam
menghadapi persoalan dengan hukum dan hati nurani, jika ia menerima apa yang
diterimanya maka ia menjatuhkan pilihan kepadanya tanpa ada rasa khawatir
jikapun ia membenci sesuatu ia akan menjauhinya. Berikut adalah salah satu
contoh wara’ yaitu memelihara lisan, tidak sampai ghibah atau menggunjing.
Firman Allah SWT dalam surah al-Hujurat ayat 12 yang artinya, "Janganlah
setengah di antara kamu menggunjing terhadap setengah lainnya, tidak buruk
sangka. Firman Allah SWT dalam surah al-Hujurat ayat 12 yang artinya,
"Hindarkanlah prasangka buruk, karena setengahnya adalah dosa."Dalam
hadits Nabi SAW dijelaskan yang artinya, "Hati-hatilah kamu dari prasangka
buruk, karena hal itu adalah perkataan paling bohong.", tidak menghina
(merendahkan) orang lain. Firman Allah SWT dalam surah al-Hujurat ayat 11 yang
artinya, "Janganlah suatu kaum menghina kaum lainnya, boleh jadi kaum yang
dihina itu adalah lebih baik dari pada kaum yang menghina." Tidak ambisi
kedudukan dan tidak pula berlaku sombong. Firman Allah SWT dalam surah
al-Qashash ayat 83 yang artinya, "Negeri akhirat sengaja Kami sediakan
bagi mereka yang tidak ambisi kedudukan dunia dan tidak pula suka
merusak.", memelihara (waktu) sholat dan menyempurnakan ruku’ dan
sujudnya. Firman Allah SWT dalam surah al-Baqarah ayat 238 yang artinya,
"Peliharalah (waktu-waktu) sholat, terutama sholat pertengahan,
tegakkanlah dengan khusyu', diam bermunajat.", masih banyak contoh/tanda-tanda
seseorang bersikap wara’ oleh karenanya kita harus senantiasa berhati-hati
terhadap segala sesuatu dan tidak berlebih-lebihan, keutamaan dari sikap wara’
ini adalah menghimpun semua sikap yang sempurna, wara merupakan ibadah paling
tinggi derajatnya, wara menjadi medium untuk meraih beragam karunia yang lain
dan paling agung dari Allah, Syah al-Karmani berkata, “tanda taqwa adalah wara.
Tanda wara adalah menjauhi segala yang syubhat. Tanda khauf adalah kesedihan
dan tanda raja adalah melakukan ketaatan dengan baik.” Para sufi pun meneladani
sikap wara atas jejak dari para Rasulullah dan para sahabatnya hal ini sebagai
akibat cinta kepada Allah dan keteguhan mereka dalam memegang petunjuk-Nya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar