Jumat, 01 Mei 2020

WARA DALAM PERSPEKTIF TASSAWUF



Secara bahasa wara’ jika dikatakan, "wara'a yara'u war'an wa wara'an wa wari'atan adalah menghindari diri dari perbuatan dosa atau menjauhi hal-hal yang tidak baik dan syubhat. Sedangkan menurut para sufi adalah menghindari segala yang tidak jelas antara halal dan haram, sedangkan menurut istilah wara’ adalah meninggalkan yang meragukan, menentang yang membuatmu tercela, mengambil yang lebih terpercaya, mengarahkan diri kepada yang lebih hati-hati. Singkatnya, wara adalah menjauhi yang syubhat dan mengawasi yang berbahaya.
sebagian ulama membagi wara' dalam tiga tingkatan, pertama adalah meninggalkan yang haram, ini adalah umum bagi semua manuisa, kedua menahan syubhat, ini dilakukan sebagian manusia, Ketiga meninggalkan, kebanyakan perkara yang mubah dengan mengambil yang benar-benar penting saja, ini dilakukan oleh para Nabi, orang-orang yang benar (shiddiqin), para syuhada, dan orang-orang saleh.
Makna wara tidak terletak pada persoalan bisa atau tidaknya seseorang dalam menghadapi masalah yang muncul dengan hukum Allah, bukan itu yang dimaksud dengan wara, karena setiap muslim sekuat tenaga mencari kebenaran dalam menghadapi persoalan dengan hukum dan hati nurani, jika ia menerima apa yang diterimanya maka ia menjatuhkan pilihan kepadanya tanpa ada rasa khawatir jikapun ia membenci sesuatu ia akan menjauhinya. Berikut adalah salah satu contoh wara’ yaitu memelihara lisan, tidak sampai ghibah atau menggunjing. Firman Allah SWT dalam surah al-Hujurat ayat 12 yang artinya, "Janganlah setengah di antara kamu menggunjing terhadap setengah lainnya, tidak buruk sangka. Firman Allah SWT dalam surah al-Hujurat ayat 12 yang artinya, "Hindarkanlah prasangka buruk, karena setengahnya adalah dosa."Dalam hadits Nabi SAW dijelaskan yang artinya, "Hati-hatilah kamu dari prasangka buruk, karena hal itu adalah perkataan paling bohong.", tidak menghina (merendahkan) orang lain. Firman Allah SWT dalam surah al-Hujurat ayat 11 yang artinya, "Janganlah suatu kaum menghina kaum lainnya, boleh jadi kaum yang dihina itu adalah lebih baik dari pada kaum yang menghina." Tidak ambisi kedudukan dan tidak pula berlaku sombong. Firman Allah SWT dalam surah al-Qashash ayat 83 yang artinya, "Negeri akhirat sengaja Kami sediakan bagi mereka yang tidak ambisi kedudukan dunia dan tidak pula suka merusak.", memelihara (waktu) sholat dan menyempurnakan ruku’ dan sujudnya. Firman Allah SWT dalam surah al-Baqarah ayat 238 yang artinya, "Peliharalah (waktu-waktu) sholat, terutama sholat pertengahan, tegakkanlah dengan khusyu', diam bermunajat.", masih banyak contoh/tanda-tanda seseorang bersikap wara’ oleh karenanya kita harus senantiasa berhati-hati terhadap segala sesuatu dan tidak berlebih-lebihan, keutamaan dari sikap wara’ ini adalah menghimpun semua sikap yang sempurna, wara merupakan ibadah paling tinggi derajatnya, wara menjadi medium untuk meraih beragam karunia yang lain dan paling agung dari Allah, Syah al-Karmani berkata, “tanda taqwa adalah wara. Tanda wara adalah menjauhi segala yang syubhat. Tanda khauf adalah kesedihan dan tanda raja adalah melakukan ketaatan dengan baik.” Para sufi pun meneladani sikap wara atas jejak dari para Rasulullah dan para sahabatnya hal ini sebagai akibat cinta kepada Allah dan keteguhan mereka dalam memegang petunjuk-Nya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar