Jabariyah
sendiri berasal dari kata Jabara yang berarti “memaksa”, yang mengharuskan
melakukan perbuatan sesuatu, dilihat dari kedudukan sebagai makhluk Allah kita
tidak mmepunyai wewenang apa-apa yang mana kita pasrah saja terhadap apa yang
ditakdirkan Tuhan. Dalam sifat dari Allah adalah Al Jabar yang berarti maha
memaksa sedangkan dalam istilah Jabbariah adalah menolak adanya perbuatan dari
manusia dan menyandarkan semua perbuatan pada Allah dengan kata lain manusia
mengerjakan perbuatan dalam keadaan terpaksa, menurut sejarah yang berkembang
Jabariyah ditemukan oleh Ja’d ibn Dirham yang kemudian dikembangkan oleh Jahm
ibn Shafwan, aliran ini sudah ada sejak masa para sahabat namun baru berkembang
pada masa Tabi’in dan aliran ini dikelompokan menjadi dua, aliran ekstrim dan
moderat.
Dapat
Kita simpulkan bahwa aliran Jabariyah adalah aliran sekelompok orang yang
memahami bahwa segala perbuatan yang mereka lakukan merupakan sebuah unsur
keterpaksaan atas kehendak Tuhan dikarenakan telah ditentukan oleh qadha dan
qadar Tuhan. Jabariah adalah pendapat yang tumbuh dalam masyarakat Islam yang
melepaskan diri dari seluruh tanggungjawab. Maka Manusia itu disamakan dengan
makluk lain yang sepi dan bebas dari tindakan yang dapat dipertanggungjawabkan.
Dengan kata lain, manusia itu diibaratkan benda mati yang hanya bergerak dan
digerakkan oleh Allah Pencipta, sesuai dengan apa yang diinginkan-Nya. Dalam
soal ini manusia itu dianggap tidak lain melainkan bulu di udara dibawa angin
menurut arah yang diinginkan-Nya. Maka manusia itu sunyi dan luput dari ikhtiar
untuk memilih apa yang diinginkannya sendiri
SEJARAH MUNCULNYA JABARIYAH
Golongan
Jabariyah pertama kali muncul di (Persia) pada saat munculnya golongan
Qodariyah, yaitu kira-kira pada tahun 70 H. Aliran ini dipelopori oleh Jahm bin
Shafwan,. Jahm bin Shafwan-lah yang pertama kali mengatakan bahwa manusia tidak
mempunyai kebebasan apapun, semua perbuatan manusia ditentukan Allah semata,
tidak ada hubungannya dengan manusia. Jabariyah dinisbatkan kepada Jahm bin
Shafwan karena itu kaum Jabariyah disebut sebagai kaum Jahmiyah, Namun pendapat
lain mengatakan bahwa orang yang pertama mempelopori paham jabariyah adalah
Al-Ja'ad bin Dirham, dia juga disebut sebagai orang yang pertama kali
menyatakan bahwa Al-Quran itu makhluq dan meniadakan sifat-sifat Allah.
Disamping itu kaum Jahmiyah juga mengingkari adanya ru'ya (melihat Allah dengan
mata kepala di akhirat). Meskipun kaum Qadariyah dan Jahmiyah sudah musnah
namun ajarannya masih tetap dilestarikan. Karena kaum Mu'tazilah menjadi
pewaris kedua pemahaman tersebut.
Disebut
Qadariyah karena mereka mewarisi isi paham mereka tentang penolakan terhadap
adanya takdir, dan menyandarkan semua perbuatan manusia kepada diri sendiri
tanpa adanya intervensi Allah. Disebut Jahmiyah karena mereka mewarisi dari
paham penolakan mereka yang meniadakan sifat-sifat Allah, Al-quran itu Makhluk,
dan pengingkatan mereka mengenai kemungkinan melihat Allah dengan mata kepala
di hari kiamat.
Adapun
mengenai latar belakang lahirnya aliran Jabariyah tidak adanya penjelasan yang
sahih. Abu Zahra menuturkan bahwa paham ini muncul sejak zaman sahabat dan masa
Bani Umayyah. Ketika itu para ulama membicarakan tentang masalah Qadar dan
kekuasaan manusia ketika berhadapan dengan kekuasaan mutlak Tuhan. Adapaun
tokoh yang mendirikan aliran ini menurut Abu Zaharah dan al-Qasimi adalah Jahm
bin Safwan, yang bersamaan dengan munculnya aliran Qadariyah.
Neo
Jabariah
Adalah
gaya baru dalam aliran Jabariyah itu sendiri, mereka menyerukan kepasrahan
kepada umat islam terhadap kezoliman, paham neo Jabariyah ini mengakui adanya
intervensi manusia dalam perbuatannya sehingga manusia tidak lagi seperti
wayang yang digerakan oleh dalang (Allah)menurut paham ini Tuhan dan manusia bekerja
sama dalam mewujudkan perbuatan-perbuatan manusia.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar