Jumat, 01 Mei 2020

TASAWUF JABBARIYAH, TOKOH DAN PEMIKIRANNYA



Jabariyah sendiri berasal dari kata Jabara yang berarti “memaksa”, yang mengharuskan melakukan perbuatan sesuatu, dilihat dari kedudukan sebagai makhluk Allah kita tidak mmepunyai wewenang apa-apa yang mana kita pasrah saja terhadap apa yang ditakdirkan Tuhan. Dalam sifat dari Allah adalah Al Jabar yang berarti maha memaksa sedangkan dalam istilah Jabbariah adalah menolak adanya perbuatan dari manusia dan menyandarkan semua perbuatan pada Allah dengan kata lain manusia mengerjakan perbuatan dalam keadaan terpaksa, menurut sejarah yang berkembang Jabariyah ditemukan oleh Ja’d ibn Dirham yang kemudian dikembangkan oleh Jahm ibn Shafwan, aliran ini sudah ada sejak masa para sahabat namun baru berkembang pada masa Tabi’in dan aliran ini dikelompokan menjadi dua, aliran ekstrim dan moderat.
Dapat Kita simpulkan bahwa aliran Jabariyah adalah aliran sekelompok orang yang memahami bahwa segala perbuatan yang mereka lakukan merupakan sebuah unsur keterpaksaan atas kehendak Tuhan dikarenakan telah ditentukan oleh qadha dan qadar Tuhan. Jabariah adalah pendapat yang tumbuh dalam masyarakat Islam yang melepaskan diri dari seluruh tanggungjawab. Maka Manusia itu disamakan dengan makluk lain yang sepi dan bebas dari tindakan yang dapat dipertanggungjawabkan. Dengan kata lain, manusia itu diibaratkan benda mati yang hanya bergerak dan digerakkan oleh Allah Pencipta, sesuai dengan apa yang diinginkan-Nya. Dalam soal ini manusia itu dianggap tidak lain melainkan bulu di udara dibawa angin menurut arah yang diinginkan-Nya. Maka manusia itu sunyi dan luput dari ikhtiar untuk memilih apa yang diinginkannya sendiri

SEJARAH MUNCULNYA JABARIYAH
Golongan Jabariyah pertama kali muncul di (Persia) pada saat munculnya golongan Qodariyah, yaitu kira-kira pada tahun 70 H. Aliran ini dipelopori oleh Jahm bin Shafwan,. Jahm bin Shafwan-lah yang pertama kali mengatakan bahwa manusia tidak mempunyai kebebasan apapun, semua perbuatan manusia ditentukan Allah semata, tidak ada hubungannya dengan manusia. Jabariyah dinisbatkan kepada Jahm bin Shafwan karena itu kaum Jabariyah disebut sebagai kaum Jahmiyah, Namun pendapat lain mengatakan bahwa orang yang pertama mempelopori paham jabariyah adalah Al-Ja'ad bin Dirham, dia juga disebut sebagai orang yang pertama kali menyatakan bahwa Al-Quran itu makhluq dan meniadakan sifat-sifat Allah. Disamping itu kaum Jahmiyah juga mengingkari adanya ru'ya (melihat Allah dengan mata kepala di akhirat). Meskipun kaum Qadariyah dan Jahmiyah sudah musnah namun ajarannya masih tetap dilestarikan. Karena kaum Mu'tazilah menjadi pewaris kedua pemahaman tersebut.
Disebut Qadariyah karena mereka mewarisi isi paham mereka tentang penolakan terhadap adanya takdir, dan menyandarkan semua perbuatan manusia kepada diri sendiri tanpa adanya intervensi Allah. Disebut Jahmiyah karena mereka mewarisi dari paham penolakan mereka yang meniadakan sifat-sifat Allah, Al-quran itu Makhluk, dan pengingkatan mereka mengenai kemungkinan melihat Allah dengan mata kepala di hari kiamat.
Adapun mengenai latar belakang lahirnya aliran Jabariyah tidak adanya penjelasan yang sahih. Abu Zahra menuturkan bahwa paham ini muncul sejak zaman sahabat dan masa Bani Umayyah. Ketika itu para ulama membicarakan tentang masalah Qadar dan kekuasaan manusia ketika berhadapan dengan kekuasaan mutlak Tuhan. Adapaun tokoh yang mendirikan aliran ini menurut Abu Zaharah dan al-Qasimi adalah Jahm bin Safwan, yang bersamaan dengan munculnya aliran Qadariyah.
Neo Jabariah
            Adalah gaya baru dalam aliran Jabariyah itu sendiri, mereka menyerukan kepasrahan kepada umat islam terhadap kezoliman, paham neo Jabariyah ini mengakui adanya intervensi manusia dalam perbuatannya sehingga manusia tidak lagi seperti wayang yang digerakan oleh dalang (Allah)menurut paham ini Tuhan dan manusia bekerja sama dalam mewujudkan perbuatan-perbuatan manusia.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar