Jumat, 01 Mei 2020

Aliran Mu’tazilah, Tokoh dan Pemikirannya



          Secara etimologis, kata “Mu’tazilah” adalah orang yang mengasingkan diri atau memisahkan diri, nama Mu’tazilah sendiri adalah gelar yang diberikan orang lain untuk kaum ini, dalam sejarah islam, golongan ini pernah mengalami pertikaian antara Ali bin Abi thalib dengan Muawiyah bin Abi Sufyan dimana pada saat itu terjadi pertikaian dan beberapa orang sahabat nabi tidak ingin terlibat dalam pertikaian tersebut namun mereka bersikap netral.
Asal dari penamaan Mu’tazilah terhadap kelompok ini pada awalnya adalah penamaan biasa tidak ada unsur pujian atau celaan, namun pada perkembangan selanjutnya golongan ini menjadi celaan atas nama tersebut, hal ini terjadi karena Mu’tazilah mulai menampakkan pikiran mereka dalam hal qadha dan qodar, dzat dan sifat, dan al-quran yang dianggapnya sebagai makhluk, dan hal yang terakhir ini yang menyebabkan orang islam tidak menyukai golongan ini.
Sejarah lahirnya aliran Mu’tazilah muncul dikota Basrah pada abad ke 2 hijriyah, tahun 105-110 H tepatnya pada masa pemerintahan khalifah Abdul Malik bin Marwan dan khalifah Hisam bin Abdul Malik, pelopor dari lahirnya kemunculan aliran ini adalah dari seorang pemuda mantan dari murid Hasan Al-Barsi, ia adalah Washil bin  Atha' Al-Makhzmi Al-Ghozzal yang tidak sependapat dengan gurunya tentang dosa besar, dan ia berpendapat bahwa orang yang melakukan dosa besar tidak dianggap mukmin dan tidak pula dianggap kafir, tetapi berada diantaranya keduanya yaitu (al manzilah baina al manzilataini).

Tokoh-tokoh dan Pemikiran Aliran Mu’tazilah
1.      Wasil Bin Atha
Wasil Bin Atha adalah orang pertama yang meletakkan dasar ajaran mu'tazilah. Ada tiga ajaran pokok yang dicetuskan oleh Wasil bin Atha, yaitu paham al-manzilah bain al-manzilatain, paham kadariyah (yang diambilnya dari ma'bad dan gailan, dua tokoh aliran Kadariyah), dan paham peniadaan sifat-sifat Tuhan. Dua dari tiga ajaran itu kemudian menjadi doktrin ajaran Mu'tazilah, yaitu al manzilah bain al-manzilatain dan peniadaan sifat-sifat Tuhan.


2.      Abu Huzail al-Allaf
Abu Huzail al-Allaf adalah seorang filosof islam dan banyak mengetahui filsafat Yunani dimana ia dapat dengan mudah menyusun ajaran-ajaran Mu’tazilah yang bercorak filsafat, diantaranya ia membuat sebuah uraian dari pengertian Nafy as-sifat dan menjelaskan bahwa “Tuhan Maha Mengetahui” dengan pengetahuannya dan pengetahuannya itu adalah Zat-Nya bukan sifatnya, Tuhan Maha Kuasa dengan kekuasaannya dan kekasaannya itu juga Zat-Nya bukan sifatnya dan begitu seterusnya. Penjelasan ini dimaksudkan oleh Abu Huzail agar terhindar dari adanya yang kadim selain dari Tuhan karena jika dikatakan ada sifat (diluar dari zat Tuhan) maka sifatnya kadim ini akan membawa kepada kemusyrikan.
3.      Al-Jubba’i
Murid dari Abu Hasan Al-Asyari ini berpendapat bahwa kalam Allah, sifat Allah, kewajiban manusia dan daya akal mengenai sifat Allah ia menerangkan bahwa Allah tidak memiliki sifat.
4.      An-Nazzam
Berpendapat tentang keadilan terhadap Tuhan, mengatakan bahwa Tuhan itu mustahil berbuat zalim terhadap hambanya , dan An-Nazzam menegaskan bahwa hal itu bukanlah hal yang mustahil, bahkan Tuhan tidak mempunyai kemampuan untuk berbuat zalim. Ia berpendapat bahwa perbuatan zalim hanya dilakukan oleh orang yang bodoh dan tidak sempurna, sedangkan Tuhan jauh dari keadaan yang demikian.
5.      Bisyr al- Mu'tamir
Ajarannya yang penting menyangkut pertanggungjawaban perbuatan manusia. Seorang yang berdosa besar kemudian bertobat, lalu mengulangi lagi perbuatan dosa besar,akan mendapan siksa ganda, meskipun ia telah bertobat atas dosa besarnya yang terdahulu

Ajaran Aliran Mu’tazilah
Ada beberapa ajaran dari aliran Mu’tazilah ini yaitu:
1.      Tauhid(keesaan Allah) adalah prinsip yang utama diajarkan oleh aliran ini dan mereka berpendapat bahwa Allah itu Esa dan tidak ada satupun yang dapat menyamainya.
2.      Al-Adl (keadilan)dijelaskan bahwa kebaikan datang dari Allah dan kejelekan berasal dari makhluk (manusia) seperti firman Allah ; " Dan Allah tidak suka terhadap kerusakan". (Al-Baqarah: 205). Menurut mereka keinginan dan kesukaan tidak dapat dipisahkan dan mustahil bila Allah tidak suka terhadap kejelekan dan kemudian mentakdirkan.
3.      Al-Wa’d Wa Al-Wai’id (janji baik dan ancaman)janji yang akan di kabulkan Allah karena Allah tidak akan ingkar terhadap janjinya dan Mu’azilah menolak syafaat karena menurut mereka hal ini bertentangan dengan janji Allah.
4.      Al-manzilah bain Al-Manzilatain( posisi diantara dua posisi) dalamajaran ini orang yang melakukuan dosa besar maka dia tidak dianggap orang mukmin dan tidak juga orang kafir, melainkan diantara keduanya.
5.      AmalMakruf nahi mungkar, dalam ajaran kali ini menyuruh untuk melakukan kebajikan dan melarang kemungkaran dan iman harus dibuktikan oleh kebaikan, perbedaan golongan Mu’tazilah dengan yang lain adalah pada pelaksanaannya. Menurut Mu'tazilah, jika harus melakukan kekerasan untuk menempuh ajaran ini, maka kerjakanlah

Tidak ada komentar:

Posting Komentar