Jumat, 28 Januari 2022

AKAR-AKAR TERORISME DALAM AGAMA

 


Terorisme Atas Nama Agama

Setiap individu memiliki pengertian yang berbeda terhadap istilah terorisme, definisi dari terorisme pada umumnya adalah refleksi dari kepentingan-kepentingan moral dari individu yang memberikan definisi atau kepentingan politik ataupun lainnya. Keputusan melabeli individu ataupun organisasi sebagai teroris bersifat subjektif tergantung dari orang tersebut menentang individu lain/kelompok untuk tujuan tertentu. Adapun rangkuman ciri-ciri terorisme sebagai berikut :

1.      Kejahatan dilakukan karena ada tujuan ataupun motif politik, agama, dan ideologi lainnya. Hal ini dilakukan untuk mendapatkan keuntungan finansial semata, meskipun hal ini menyebabkan ketakutan-ketakutan di masyarakat.

2.      Perbuatan jahat atau kekerasan  yang dilakukan oleh orang-orang ini dianggap teroris, dilain hal kekerasan dianggap sebagai tindakan terorisme dan bukan hal yang yang terjadi secara kebetulan.

3.      Bisa dikatakan sebagai tindakan terorisme , kekerasan harus mempengaruhi sasaran ataupun audience diluar dari target langsung, dengan hal ini sasaran dari suatu perbuatan bukanlah sasaran utama.

4.      Terorisme melibatkan aktor atau bukan negara yang melakukan kekerasan orang yang tidak terlibat dalam pertempuran yaitu warga sipil ataupun para tentara yang tidak ada dalam peperangan.

5.      Terorisme dilakukan oleh orang yang rasional, dan perbuatan terorisme dilakukan tidak sembarangan, dan sasaran yang akan diserang dipilih oleh teroris.

Dalam sasaran yang akan diserang, ideologi dari sasaran ditentukan karena hal ini akan sangat berpengaruh besar terhadap reaksi dari masyarakat, ideologi menjadi penting karena tidak hanya memberikan kekuatan untuk bertindak, namun juga dapat menerangkan kerangka moral sebagai acuan bagi teroris untuk melakukan aksinya. Ideologi juga menentukan bagaimana anggota melihat kondisi sekitar dan mengidentifikasi musuh dengan menjustifikasi dan memberikan penjelasan kenapa lembaga atau orang tertentu menjadi sasaran.

Adapun terorisme keagamaan dibedakan menjadi terorisme terorisme keagamaan yang memiliki corak politik dan terorisme keagamaan yang tidak memiliki corak politik dan murni karena agama. Untuk perkara pertama, contohnya seperti perlawanan di Irak dan Afganistan, memakai agama sebagai tameng untuk menarik anggota dan melakukan tindakan yang memiliki tujuan politik, dan tujuan ini dapat berupa mendapatkan kekuatan agar dapat menerapkan hukum agama yang sesuai dengan penafsiran mereka atau juga bisa menguasai negara dan menjustifikasi dengan teks-teks keagamaan. Sedangkan untuk yang jenis kedua, tidak memiliki tujuan duniawi namun kelompok jenis inilah yang menimbulkan banyak permasalahan juga ketakutan yang ada di masyarakat, tidakan ini dilakukan pada umumnya untuk balas dendam terhadap sesuatu yang dilakukan oleh seseorang ataupun masyarakat, walaupun pelaku kekerasan ini tidak langsung terkena akibat dari apa yang diperbuatnya kecuali kehormatan dan nama baik agama dan nabi mereka.

 

Terorisme Keagamaan dan Ciri-cirinya

Semangat dan militansi dari keagamaan dapat mempertahankan gerakan teroris dalam jangka waktu yang panjang walaupun harus menghadapi tantangan yang tidak mudah. Contoh, dalam kelompok Thugs yaitu sebuah sekte dalam agama Hindu yang mampu bertahan sekitar 6 abad, Assassins (Nizari yaitu sekte Syi’ah Ismaili) selama 2 abad, dan Zealots-Sicaari (Yahudi) selama 27 tahun, dan ketiga kelompok ini dipandang sebagai pendahuluan dari sejarah terorisme keagamaan kontemporer dan sering juga saat ini digambarkan sebagai model bagi terorisme keagamaan dizaman modern dam karena itulah agama bukan sebuah kamuflase dari suatu perbuatan yang sebenarnya memiliki tujuan ataupun motivasi yang bersifat politik, terorisme yang terjadi dalam agama juga bukan bukti pemberontakan di zaman modern ini, namun agama merupakan motivasi yang rasional bagi para terorisme. Menurut pandangan David Rapoport, ia mengatakan bahwa sumber utama dari perbuatan-perbuatan yang menimbulkan teror suci adalah doktrin agama, sementara itu menurut R. Scoot Appleby mendukung pendapat dari Rapoport dan mengatakan bahwa kekerasan juga terorisme dilakukan atas nama agama pasti dimotivasi oleh kepentingan yang lain. Dan hal ini terbukti dan benar bahwa kekerasan dan terorisme tidak dapat diragukan namun juga tidak hanya untuk kepentingan pribadi saja. ciri utama dari terorisme keagamaan ini dapat disimpulkan bahwa ajaran dan perintah agama menjadi sumber yang transenden, dan motivasi agama merupakan ciri yang paling penting dari aktivitas terorisme ini.

 

 

Adanya Akar Terorisme

Kegiatan terorisme dilakukan oleh sebagian masyarakat tentu memiliki sebab dan tindakan kekerasan selalu memiliki justifikasi. Terorisme juga bertujuan untuk mengubah tatanan dunia dan tujuan ini adalah agenda yang tidak terbatas, diperjuangkan dengan berbagai macam cara. Tidakan terorisme ini juga muncul akibat dari modernisasi, perasaan terhina terhadap kelompok tertentu yang merendahkan nilai ataupun tradisi dalam suatu agama membuat terorisme ini muncul karena ketakutan hilangnya identitas asli suatu kelompok ataupun golongan. Tindakan yang dilakukan oleh terorisme selalu melanggar HAM, seperti halnya bom bunuh diri ataupun peperangan yang melakukan kekerasan, menurut David Apter ia menyatakan bahwa terorisme dianggap sebagai tindakan yang bertujuan politis, maka kekerasan yang timbul digunakan para teroris bisa disebut sebagai kekerasan politik. Contoh terorisme di Chechynya, ada beberapa serangan dari teroris yang dilakukan dengan cara bom bunuh diri, diketahui bahwa mereka melakukan pembunuhan untuk upaya balas dendam terhadap perilaku kejam yang dilakukan tentara Rusia yang membunuh kerabat ataupun suami mereka pada masa itu, dan apa yang mereka lakukan hanyalah untuk menuntut apa yang menjadi hak mereka. Perasaan terhina kerap kali menjadi faktor munculnya terorisme, ini juga yang menjadi alasan mengapa banyak anak muda, orang cerdas, kaya dan berpendidikan mau melakukan serangan terorisme ataupun serangan bunuh diri.

Dilain hal, jaringan terorisme memberikan iming-iming bagi siapa saja yang ingin bergabung untuk mendapatkan kehidupan yang sejahtera, bahkan diiming-imingi hadiah surga bila mereka mati, karena keyakinan akan jihad yang telah dilaluinya atas nama Tuhan. Kita menyadari bahwa teroris memiliki proses yang saling berkaitan juga pemahaman agama yang keliru, kemiskinan, kesejahteraan yang kurang dan frustasi kemajuan zaman, jika kita ingin memberantasnya, tidak cukup hanya menangkap dan mengeksekusi para teroris, karena mereka masih memiliki sistem kaderisasi, karena itulah pemerintah, lembaga, dan juga masyarakat memiliki tanggungjawab yang sama untuk memberantas terorisme. Ada pandangan mengenai pergeseran terorisme lama dengan terorisme modern, dalam terorisme modern, target tidak perlu lagi pemimpin besar, selain itu terorisme modern cenderung tidak mengidentifikasikan dirinya kedalam bagian kelompok tertentu, juga tidak memakai organisasi dan bisa menyebar dimana saja.

Kamis, 10 September 2020

 

AGAMA HINDU

A.    Latar Belakang Sejarah dan Pembawa Agama Hindu ( Rsi, Sapta Rsi)

Dalam perkembangan sejarah agama Hindu dimulai dari zaman perkembangan kebudayaan–kebudayaan di Mesopotamia dan Mesir. Diperkirakan tahun 3000 dan 2000 SM sudah ada bangsa yang penduduknya menyerupai bangsa Sumeria di daerah sungai Eufrat dan Tigris, penduduk india zaman ini disebut dengan bangsa Dravida. Selanjutnya antara tahun 2000-1000SM dari sebelah utara India, masuklah kaum Arya yang memisahkan diri dari bangsanya di Iran, masuk ke India melalui pegunungan Hindu Kush. Sebelum mengenal sistem kepercayaan yang terorganisir, bangsa Arya melakukan pemujaan yang ditunjukan pada fenomena alam seperti gunung, laut dan lainnya. Setelah bangsa Arya melakukan menempati sungai Idrus, maka mereka bercampur dengan bangsa Dravida, awalnya semua menganggap bahwa budaya India adalah kebudayaan yang dibawa oleh bangsa Arya, namun setelah dilakukan penggalian bekas runtuhan pada peradaban Mohenjodaro dan Harappa diketahui bahwa bangsa Arya lebih rendah dari bangsa Dravida, jadi jelas bahwa bangsa India tumbuh dari dua bangsa yang berlainan yang kemudian menjadi satu kesatuan.

 

B.     Kitab dan Naskah Suci Agama Hindu

Ajaran agama Hindu bersumber dari kitab atau naskah suci yang disusun dalam masa yang sangat panjang dan dalam kitab suci ini termuat nilai-nilai agama Hindu beserta tuntunan untuk menjalani hidup di jalan dharma, salah satu sastra suci itu adalah Weda (yang paling tua dan lengkap, diikuti Upanishad (susastra dasar yang yang penting untuk mempelajari filsafat Hindu), dan sastra lain seperti Tantra, Agama dan Purana, serta ithasa (epos) yaitu Ramayana dan Mahabharata. Weda adalah kebenaran abadi yang diwahyukan kepada Resi ketika mendengar wahyu pada saat melakukan meditasi, artinya Weda bukan hasil dari pemikiran manusia melainkan sesuatu yang disadari oleh para Resi Weda yang merasakan kekuatan yang dianggap berasal dari Tuhan, maka sumber ajaran agama Hindu adalah Weda, kitab suci Weda disebut juga dengan “Sruti”. Para maha Resi yang mendapatkan wahyu sangat banyak, namun hanya tujuh yang terkenal dan disebut “Saptaresi” diantaranya adalah :

1.      Resi Gritsamada

2.      Resi Wasista

3.      Resi Atri

4.      Resi Wiswamitra

5.      Resi Wamadewa

6.      Resi Bharadwaja dan

7.      Resi Kanwa

Bahasa yang digunakan dalam kitab Weda adalah Sangsekerta, sebelum sangsekerta populer, bahasa yang digunakan adalah  Daiwi Wak (bahasa/sabda Dewata). Resi Manu membagi Weda menjadi 2 jenis yaitu Weda Sruti dan Weda Smerti. Sruti dan Smerti merupakan dasar ajaran agama Hindu yang tidak boleh dibantah dan harus dipegang teguh. Berikut adalah ulasan singkatnya :

1.      Sruti

Penganut agama Hindu mempercayai Sruti merupakan kitab yang diturunkan langsung oleh Tuhan kepada para Resi, dengan kata lain Sruti adalah Weda yang original. Menurut sifatnya weda Sruti dibagi menjadi tiga bagian yaitu :

a.       Bagian Mantra adalah wahyu yang dimunculkan berdasarkan kesadaran para guru, Weda Sruti disebut catur weda atau catur weda samhita, keempat kitab suci weda samhita adalah :

1.      Rig Weda atau Rg Weda Samhita

2.      Sama Weda Samhita

3.      Yajur Weda Samhita

4.      Atharwa Weda Samhita  

b.      Bagian Brahmana, kitab Brahmana disusun oleh pendeta Brahmana sekitar abad ke-8 SM, disusun dalam bentuk prosa yang ditulis oleh bangsa Arya, dengan kata lain kitab ini bukan ditunjukan untuk Dewa melainkan berisi tentang keterangan dari para Brahmana tentang korban dan sesaji.  

c.       Bagian Upanisad/Aranyaka, kitab ini memuat ajaran filsafat, meditasi serta ketuhanan, Upanisad disusun dengan waktu yang lama dan yang tertua adalah Brharadaranyaka Upanisah dan Chandogya Upanisad, diperkirakan disusun pada abad ke-8 SM. Sementara itu, kitab Aranyaka isinya adalah penjelasan terhadap bagian mantra dan Brahmana, berisi tentang renungan dan masalah korban, Aranyaka terdiri dari interpretasi mistik dari mantra dan upacara.

2.      Smerti

Smerti merupakan kitab yang disusun kembali berdasarkan ingatan. “smerti” artinya “yang diingat” atau “kenangan”. Kitab ini dianggap buatan manusia bukan dari Tuhan, Smerti ditulis untuk menjelaskan Weda agar dapat dimengerti oleh manusia. Smerti dikelompokan menjadi dua yaitu :

a.       Kelompok Wedangga, disebut juga Sadangga, terdiri dari enam bidang Weda yaitu, siksa(ponetika), Wyakarana (tata bahasa), Chanda (lagu), Nirukta (memuat berbagai penafsiran autentik weda), Jyotisa (astronomi), dan kalpa.

b.      Kelompok Upaweda, sama pentingnya seperti Wedanga, kelompok Upaweda terdiri dari 5 jenis yaitu, Itihasa, Purana, Arthasastra, Ayur Weda, Gandharwaweda.

 

C.    Ajaran-ajaran Pokok Agama Hindu (Tattwa, Susila dan Upacara)

Weda merupakan kitab suci yang menjadi pedoman bagi umat Hindu, melalui kitab suci ini umat diajarkan tentang etika dan tata cara hidup sebagai makhluk sosial. Ada yang menyatakan bahwa agama Hindu merupakan agama politeisme sebab menyembah banyak dewa namun tidak semua itu benar, sebab menurut umat Hindu, dewa bukanklah Tuhan tersendiri, dalam salah satu ajaran filsafat Hindu yaitu Adwaita Wedatana menjelaskan bahwa hanya ada satu kekuatan dan menjadi sumber dari segala sumber(Brahman) yaitu yang memanifestasikan diri-Nya ke dalam berbagai bentukan. Ajaran Hindu dibangun oleh kerangka dasarnya yaitu Tattwa, susila dan acara agama, ketiganya adalah hal yang tidak dapat dipisahkan, berikut adalah uraian singkatnya :

1.      Tattwa (Filsafat)

Tatwa merupakan kata yang berasal dari kata awalan “Tat” yang berarti “itu” dan “twa” yang artinya “itu”. Kata Tattwa bisa diartikan “ke-itu-an”, sementara arti yang lebih mendalam adalah “ kebenaranlah itu”. Di dalam terminologi Hindu kata Tattwa mendefinisikan sebagai dasar agama Hindu dan tidak terlalu mendefinisikan ke filsafat. Tattwa mengandung lima hal yang biasa disebut dengan Panca Sradha. Keimanan terhadap Tuhan merupakan dasar beragama umat Hindu , adapun pokok-pokok itu dibagi menjadi lima yaitu Panca Srada yang terdiri dari Widhi Tattwa(percaya adanya Tuhan), Atma Tattwa (percaya adanya jiwa), Karmaphala Tattwa (percaya kepada hukum sebab akibat), Purnabhawa tattwa (percaya kepada adanya penitisan)  dan Moksa Tattwa (percaya adanya kelepasan/merdeka).

2.      Susila (Etika)

Susila berasal dari kata “su” yang artinya baik dan sila berarti “dasar/perilaku/tindakan”, Susila adalah tingkah laku manusia yang baik yang memancar sebagai pencerminan dirinya terhadap hubungan dan lingkungan disekitarnya, susila juga bisa diartikan dengan etika. Dalam agama Hindu, Susila merupakan aspek penting dalam berkehidupan bermasyarakat, kualitas seseorang ditentukan oleh etikanya, penerapan dalam agama Hindu mengenai Susila adalah :

a.       Tri Kaya Parisuda : adalah tiga jenis perbuatan yang merupakan ajaran Hindu dan menjadi pedoman.

b.      Panca Yama dan Niyama Brata : adalah lima kebaikan yang harus dilaksanakan dan lima keburukan yang seharusnya dihindari.

c.       Tri Mala : tiga sifat buruk yang dapat meracuni manusia

d.      Sad Ripu : adalah enam musuh yang ada dalam diri manusia yang mengakibatkan tidak stabilnya emosi.

e.       Catur Asrama : empat tingkat kehidupan manusia yang disesuaikan dengan kehidupannya juga mempengaruhi prioritas menunaikan dharmanya.

f.       Catur Purusa Artha : empat dasar pilihan hidup manusia

g.      Catur Warna : merupakan empat pilihan hidup atau pembagian berdasarkan bakat yang dimiliki dan juga keterampilan yang dimiliki seseorang.

h.      Catur Guru : adalah empat kepribadian yang harus dihormati oleh penganut Hindu.

3.      Upacara (Yadnya)

Yadnya merupakan salah satu perbuatan suci yang dilakukan dengan ikhlas yang merupakan dorongan dari jiwa untuk berbuat baik berdasarkan dharma. Yadnya juga diartikan sebagai “memuja, menghormati, mengabdi, berkorban dan berbuat baik dan penyerahan dengan ikhlas”. Yadnya dikategorikan dalam beberapa bagian, berikut adalah rangkumannya :

a.       Menurut tingkat pelaksanaan Yadnya

b.      Menurut jenisnya (Panca Yadnya)

c.       Menurut Waktu Pelaksanaannya

d.      Menurut Cara Menjalankannya (Panca Marga Yadnya)

 

D.    Sekte-Sekte Agama Hindu

Ada beberapa sekte utama dalam Hindu, Sekte-sekte ini memiliki khas tersendiri dalam menanggapi beberapa ajaran agama yang dipandang lebih penting dari ajaran pokoknya. Berikut merupakan rangkuman singkatnya :

1.      Sekte Bhakti

Sekte Bhakti digolongkan menjadi dua macam yaitu bhakti yang kurang sempurna yaitu jika mmotivasinya hanya tentang diniawi, yang ke dua yaitu bhakti yang sempurna merupakan bhakti yang yang dilakukan semata-mata untuk mengekatkan diri kepada Dewa. Wujud bhakti memiliki jenjang sebagai berikut :

a.       Menghormati semua makhluk ciptaan Tuhan, baik yang nyata dan Gaib

b.      Memuja, adalah wujud bhakti berupa lantunan pujian untuk Tuhan

c.       Berdoa sebagai wujud bhakti yang dilakukan untuk permohonan terhadap Tuhan.

Dalam kitab Bhagavadgita banyak menyinggung sekte Bhakti dan penekanan ajaran amal perbuatan disebut “karmayoga” yang berakhir pada bhakti “Krisna”. Ajaran terpenting dari Bhakti adalah tentang keselamatan, dan terdapat dua bhakti yang terpenting yaitu Khrisna bhakti dan Rama bhakti.

2.      Sekte Wisnu

Sekte Wisnu lebih menekankan pemujaan terhadap dewa Wisnu, istrinya dan avatarnya. Sekte Wisnu dibedakan menjadi empat Sampradaya pokok atau sekte, yaitu Sri Sampradaya, Panchararta, Waikhanas, dan Karmahina. Penganut sekte ini lebih mengagungkan dewa Wisnu karena merasa diberi jaminan kedamaian hidup bagi penganutnya, dengan sikap penyerahan diri dari –penganutnya ini akan membawa mereka pada Nirwana. Dalam kitab sucinya yaitu kitab Purana, dewa Wisnu dilukiskan dengan baik dalam menolong manusia dari masalah dan kehancuran, upayanya dewa Wisnu menjelma menjadi makhluk ajaib dalam sepuluh rupa (melakukan avatara). Semua avatara Wisnu merupakan sebuah penggambaran simbolis yang mencerminkan kepercayaan Wisnuisme terhadap “juru selamat” dalam dunia manusia.

3.      Sekte Siwa

Dewa Siwa dalam agama Hindu digambarkan dengan tangan empat ketika sedang menjadi Siwa Mahadewa (Maheswara) pada saat itu tidak ada yang dapat mengalahkannya sekalipun itu dewa lainnya, saat berubah menjadi Mahaguru maka Siwa akan berubah menjadi orangtua berjenggot dan membimbing manusia kearah yang lebih baik, namun pada saat dirinya dilukiskan sebagai raksasa yang buas dan merusak maka itu sebagai pertanda amarahnya. Penganut sekte ini menganggap dewa Siwa sebagai dewa tertinggi, adapun bentuk pemujaan yang dilakukan para pendeta untuk dewa Siwa adalah dengan mengucapkan mantra yang disebut “Catur Dasa Siwa” yaitu empat belas wujud dewa Siwa, mantra ini digunakan untuk mendapat pengaruh keTuhanan yang kuat dan mendapat kebahagiaan.

4.      Sekte Brahma

Sekte ini melakukan pemujaan terhadap dewa Brahma yang diyakini menciptakan alam semesta menurut ajaran Trimurti dengan kitabnya yaitu “Brahmana(800SM)” isinya menjelaskan tentang sesaji dan melakukan pengorbanan-pengorbanan yang didasarkan perintah dari pendeta, intinya sekte ini lahir untuk mempertahankan kedudukan mereka, oleh karena itu umat Hindu harus tunduk dan patuh terhadap dewa yang tinggal di kahyangan dan para pendeta  atau Brahmana. Kasta tertinggi merupakan kaum Brahmana yang memiliki hak istimewa terhadap masyarakat dan upacara-upacara keagamaan sehingga dianggap mempengaruhi Dewa untuk turun ke bumi untuk memenuhi permintaan kaumnya.

5.      Sekte Sakti

Sekte sakti bisa dikategorikan juga dari sekte Siwa, namun yang dipuja bukan lagi Siwa melainkan kesaktiannya dalam bentuk Darga. Sakti merupakan kekuatan yang aktif dan menyebabkan dewa Siwa dapat menciptakan, tanpa sakti, Siwa tidak bisa berbuat apa-apa karena Siwa merupakan prinsip pasif. Karena hal ini Sakti lebih penting dari Siwa, semua terjadi karena persatuan antara prinsif aktif dan prinsif pasif yaitu dewa Siwa dengan Saktinya dan itulah Durga. Sekte ini berkaitan dengan seksual karena persatuan Siwa dan sakti adalah persatuan antara laki-laki dan perempuan, menurut sekte ini segala sesuatu dapat tercipta melalui persatuan tersebiut dan hal ini merupakan hal yang baik dan tidak ada yang tidak baik, jika ada yang beranggapan bahwa hal ini baik dan ada yang tidak baik itu merupakan kekeliruan karena anggapan ini hanya didasarkan pada kesadaran manusia itu sendiri. Manusia harus segera menyadari kebenaran bahwa segala sesuatu adalah perwujudan Skti dan Siwa dan semua itu baik.

6.      Sekte Tantra

Sekte Tantra merupakan perpaduan sinkretistik dari berbagai kepercayaan, termasuk yang primitif di India, ajarannya didasarka pada kitab Tantra, aliran ini lebih mementingkan mantra-mantra rahasia yang membebaskan ruang hawa nafsu. Untuk membebaskan manusia dari hawa nafsunya, ada lima cara yang ditempuh oleh penganut sekte Tantra, diantaranya Matsya yaitu makan ikan sebanyak-banyaknya, “mada” meminum tuak sebanyak-banyaknya, “ mansa” yaitu makan daging sebanyak-banyaknya, “mudra” yaitu makan nasi sebanyak-banyaknya, “mauetuha” yaitu melakukan nafsu birahi terhadap wanita sebanyak-banyaknya. Dengan manusia tidak terperdaya dengan nafsunya, manusia bisa melepaskan diri dari Samsara, adapula ajaran dari Tatrayana yang diberikan dalam bentuk percakapan antara Siwa dan Durga yaitu istrinya Siwa.

 

 

Referensi

Ali Imron, Muhamad, 2015. Sejarah terlengkap Agama-agama Dunia. Yogyakarta : IRCiSoD.

Hadiwijono, Harun, 2010. Agama Hindu dan Budha. Jakarta : BPK Gunung Mulia.

Swami Siwanada, Sri, 2003. Intisari Ajaran Hindu. Surabaya : Paramita.

 

Jumat, 01 Mei 2020

WARA DALAM PERSPEKTIF TASSAWUF



Secara bahasa wara’ jika dikatakan, "wara'a yara'u war'an wa wara'an wa wari'atan adalah menghindari diri dari perbuatan dosa atau menjauhi hal-hal yang tidak baik dan syubhat. Sedangkan menurut para sufi adalah menghindari segala yang tidak jelas antara halal dan haram, sedangkan menurut istilah wara’ adalah meninggalkan yang meragukan, menentang yang membuatmu tercela, mengambil yang lebih terpercaya, mengarahkan diri kepada yang lebih hati-hati. Singkatnya, wara adalah menjauhi yang syubhat dan mengawasi yang berbahaya.
sebagian ulama membagi wara' dalam tiga tingkatan, pertama adalah meninggalkan yang haram, ini adalah umum bagi semua manuisa, kedua menahan syubhat, ini dilakukan sebagian manusia, Ketiga meninggalkan, kebanyakan perkara yang mubah dengan mengambil yang benar-benar penting saja, ini dilakukan oleh para Nabi, orang-orang yang benar (shiddiqin), para syuhada, dan orang-orang saleh.
Makna wara tidak terletak pada persoalan bisa atau tidaknya seseorang dalam menghadapi masalah yang muncul dengan hukum Allah, bukan itu yang dimaksud dengan wara, karena setiap muslim sekuat tenaga mencari kebenaran dalam menghadapi persoalan dengan hukum dan hati nurani, jika ia menerima apa yang diterimanya maka ia menjatuhkan pilihan kepadanya tanpa ada rasa khawatir jikapun ia membenci sesuatu ia akan menjauhinya. Berikut adalah salah satu contoh wara’ yaitu memelihara lisan, tidak sampai ghibah atau menggunjing. Firman Allah SWT dalam surah al-Hujurat ayat 12 yang artinya, "Janganlah setengah di antara kamu menggunjing terhadap setengah lainnya, tidak buruk sangka. Firman Allah SWT dalam surah al-Hujurat ayat 12 yang artinya, "Hindarkanlah prasangka buruk, karena setengahnya adalah dosa."Dalam hadits Nabi SAW dijelaskan yang artinya, "Hati-hatilah kamu dari prasangka buruk, karena hal itu adalah perkataan paling bohong.", tidak menghina (merendahkan) orang lain. Firman Allah SWT dalam surah al-Hujurat ayat 11 yang artinya, "Janganlah suatu kaum menghina kaum lainnya, boleh jadi kaum yang dihina itu adalah lebih baik dari pada kaum yang menghina." Tidak ambisi kedudukan dan tidak pula berlaku sombong. Firman Allah SWT dalam surah al-Qashash ayat 83 yang artinya, "Negeri akhirat sengaja Kami sediakan bagi mereka yang tidak ambisi kedudukan dunia dan tidak pula suka merusak.", memelihara (waktu) sholat dan menyempurnakan ruku’ dan sujudnya. Firman Allah SWT dalam surah al-Baqarah ayat 238 yang artinya, "Peliharalah (waktu-waktu) sholat, terutama sholat pertengahan, tegakkanlah dengan khusyu', diam bermunajat.", masih banyak contoh/tanda-tanda seseorang bersikap wara’ oleh karenanya kita harus senantiasa berhati-hati terhadap segala sesuatu dan tidak berlebih-lebihan, keutamaan dari sikap wara’ ini adalah menghimpun semua sikap yang sempurna, wara merupakan ibadah paling tinggi derajatnya, wara menjadi medium untuk meraih beragam karunia yang lain dan paling agung dari Allah, Syah al-Karmani berkata, “tanda taqwa adalah wara. Tanda wara adalah menjauhi segala yang syubhat. Tanda khauf adalah kesedihan dan tanda raja adalah melakukan ketaatan dengan baik.” Para sufi pun meneladani sikap wara atas jejak dari para Rasulullah dan para sahabatnya hal ini sebagai akibat cinta kepada Allah dan keteguhan mereka dalam memegang petunjuk-Nya.

Tasawuf Falsafi : Tokoh dan Pemikirannya




   A.   Tasawuf Falsafi
Tasawuf falsafi dapat disimpulkan dengan pemahaman yang menggunakan metode filsafat namun tetap mempertahankan rasa. Berbeda dengan tasawuf akhlaki, tasawuf falsafi menggunakan metode terminologi filosofis dalam pengungkapanny, terminologi ini bersumber dari macam-macam filsafat yang telah mempengaruhi tokoh-tokohnya., yang menjadi ciri ajaran filsafat tasawuf ini adalah ajarannya yang samar dan terkadang menggunakan istilah khusus di dalam pengungkapannya, yang terkadang hanya orang yang memahami ajaran tasawuf ini yang mengerti, tidak dikategorikan sebagai tasawuf yang murni karena ajarannya yang sering diungkapkan dalam bahasa filsafat dan lebih berorientasi pada panteisme.
Tokoh dari tasawuf falsafi beserta pemikirannya :
1.     Ibnu Arabi
Muhamad bin Ali bin Ahmad bin Abdullah Ath tha’l Al-Haetami. Beliau dilahirkan di Murcia daerah Andalusia Spanyol, pada tahun 560 H. Ia lahir dari keluarga berpangkat tinggi, hartawan dan ilmuan. Ia tinggal di Hijaz dan wafat disana pada tahun 638 H, fenomena yang terkenal darinya adalah Al-Futuhat Al-Makiyah yang ditulis pada tahun 1201 H. Ajarannya ada 3 yaitu :
·        Wahdad al wujud : semua makhluk itu adalah satu, kesatuan wujud didapat dari haliqnya.
·        Hakikat Muhamadiyah : penciptaan alam adalah keberlimpahan dari wujud yang satu yaitu Tuhan , dari yang satu itu muncul wujud yang lainnya dengan segala proses.
·        Wahdad Al Adyan : yaitu kesamaan agama, semua agama itu satu dan bersumber dari Tuhan.
2.     Al Jilli
Nama lengkapnya adalah Abdul Karim bin Ibrahin Al Jilli, lahir di Jilan tepatnya di provinsi selatan di Kaspi pada tahun 1365-1417M, ia adalah sufi terkenal di Baghdad, ajaran dari Al Jilli adalah :
·        Insan Kamil : manusia yang sempurna sebagai wujud dari Tuhan yang diumpamakan dengan cermin.
·        Maqamat : ia merumuskan tahapan untuk menjadi seorang sufi yang harus dilalui, diantaranya adalah islam, iman, ihsan, shalat, sahadat, sidqiyah dan qurban.
3.     Ibnu Sabin
Abdul Haq Ibnu Ibrahim Muhammad Ibnu Nasr lahir di mursia pada tahun 614H, seorang sufi dan filosof dari Andalusi ia digelari Quthbuddin, dan dikenal pula sebagai Abu Muhammad dan mempunyai asal-usul arab. Beliau lahir dari keluarga yang berkecukupan atas kemewahan yang dimilikinya itu ia sering kali mengasingkan diri dari segala bentuk kemewahan. Ajaran dari Ibnu Sab’in adalah :
·        Ajaran tentang kesatuan mutlak dari pemahaman tentang wujud yang hanya satu yaitu Tuhan. Ia menempatkan Tuhan pada bagian pertama, sebab Tuhan baginya adalah wujud yang pertama berarti paham ini bercorak spiritual dan bukan material
·        Menolak paham Aristotelian : ibnu Sabin membantah adanya konsep jamak dan berusah a menyusun logikanya sendiri menurut penalaran keilahian. Pemikiran yang membuat, melihat dan mendengar sesuatu yang baru yang belum dilihatnya dan didengarnya. Ibnu Sab’in menanamkan logika barunya itu dengan logika pencapaian mutlak tidak termasuk pencapaian logika yang bisa dicapai dengan penalaran tetapi termasuk tembusan dari ilahi. Kesimpulan dari tasawuf falsafi Ibnu Sab’in adalah realitas-realitas logika yang ada pada diri manusia yang bersifat alamiyah yang memberi kesan adanya wujud jamak bukan sekedar ilusi semata.