Terorisme Atas
Nama Agama
Setiap
individu memiliki pengertian yang berbeda terhadap istilah terorisme, definisi
dari terorisme pada umumnya adalah refleksi dari kepentingan-kepentingan moral
dari individu yang memberikan definisi atau kepentingan politik ataupun
lainnya. Keputusan melabeli individu ataupun organisasi sebagai teroris
bersifat subjektif tergantung dari orang tersebut menentang individu
lain/kelompok untuk tujuan tertentu. Adapun rangkuman ciri-ciri terorisme sebagai
berikut :
1.
Kejahatan
dilakukan karena ada tujuan ataupun motif politik, agama, dan ideologi lainnya.
Hal ini dilakukan untuk mendapatkan keuntungan finansial semata, meskipun hal
ini menyebabkan ketakutan-ketakutan di masyarakat.
2.
Perbuatan
jahat atau kekerasan yang dilakukan oleh
orang-orang ini dianggap teroris, dilain hal kekerasan dianggap sebagai
tindakan terorisme dan bukan hal yang yang terjadi secara kebetulan.
3.
Bisa
dikatakan sebagai tindakan terorisme , kekerasan harus mempengaruhi sasaran
ataupun audience diluar dari target langsung, dengan hal ini sasaran dari suatu
perbuatan bukanlah sasaran utama.
4.
Terorisme
melibatkan aktor atau bukan negara yang melakukan kekerasan orang yang tidak
terlibat dalam pertempuran yaitu warga sipil ataupun para tentara yang tidak
ada dalam peperangan.
5.
Terorisme
dilakukan oleh orang yang rasional, dan perbuatan terorisme dilakukan tidak
sembarangan, dan sasaran yang akan diserang dipilih oleh teroris.
Dalam
sasaran yang akan diserang, ideologi dari sasaran ditentukan karena hal ini
akan sangat berpengaruh besar terhadap reaksi dari masyarakat, ideologi menjadi
penting karena tidak hanya memberikan kekuatan untuk bertindak, namun juga
dapat menerangkan kerangka moral sebagai acuan bagi teroris untuk melakukan
aksinya. Ideologi juga menentukan bagaimana anggota melihat kondisi sekitar dan
mengidentifikasi musuh dengan menjustifikasi dan memberikan penjelasan kenapa
lembaga atau orang tertentu menjadi sasaran.
Adapun
terorisme keagamaan dibedakan menjadi terorisme terorisme keagamaan yang
memiliki corak politik dan terorisme keagamaan yang tidak memiliki corak
politik dan murni karena agama. Untuk perkara pertama, contohnya seperti
perlawanan di Irak dan Afganistan, memakai agama sebagai tameng untuk menarik
anggota dan melakukan tindakan yang memiliki tujuan politik, dan tujuan ini
dapat berupa mendapatkan kekuatan agar dapat menerapkan hukum agama yang sesuai
dengan penafsiran mereka atau juga bisa menguasai negara dan menjustifikasi
dengan teks-teks keagamaan. Sedangkan untuk yang jenis kedua, tidak memiliki
tujuan duniawi namun kelompok jenis inilah yang menimbulkan banyak permasalahan
juga ketakutan yang ada di masyarakat, tidakan ini dilakukan pada umumnya untuk
balas dendam terhadap sesuatu yang dilakukan oleh seseorang ataupun masyarakat,
walaupun pelaku kekerasan ini tidak langsung terkena akibat dari apa yang
diperbuatnya kecuali kehormatan dan nama baik agama dan nabi mereka.
Terorisme
Keagamaan dan Ciri-cirinya
Semangat
dan militansi dari keagamaan dapat mempertahankan gerakan teroris dalam jangka
waktu yang panjang walaupun harus menghadapi tantangan yang tidak mudah.
Contoh, dalam kelompok Thugs yaitu sebuah sekte dalam agama Hindu yang mampu
bertahan sekitar 6 abad, Assassins (Nizari yaitu sekte Syi’ah Ismaili) selama 2
abad, dan Zealots-Sicaari (Yahudi) selama 27 tahun, dan ketiga kelompok ini
dipandang sebagai pendahuluan dari sejarah terorisme keagamaan kontemporer dan
sering juga saat ini digambarkan sebagai model bagi terorisme keagamaan dizaman
modern dam karena itulah agama bukan sebuah kamuflase dari suatu perbuatan yang
sebenarnya memiliki tujuan ataupun motivasi yang bersifat politik, terorisme
yang terjadi dalam agama juga bukan bukti pemberontakan di zaman modern ini,
namun agama merupakan motivasi yang rasional bagi para terorisme. Menurut
pandangan David Rapoport, ia mengatakan bahwa sumber utama dari
perbuatan-perbuatan yang menimbulkan teror suci adalah doktrin agama, sementara
itu menurut R. Scoot Appleby mendukung pendapat dari Rapoport dan mengatakan
bahwa kekerasan juga terorisme dilakukan atas nama agama pasti dimotivasi oleh
kepentingan yang lain. Dan hal ini terbukti dan benar bahwa kekerasan dan
terorisme tidak dapat diragukan namun juga tidak hanya untuk kepentingan
pribadi saja. ciri utama dari terorisme keagamaan ini dapat disimpulkan bahwa
ajaran dan perintah agama menjadi sumber yang transenden, dan motivasi agama
merupakan ciri yang paling penting dari aktivitas terorisme ini.
Adanya Akar
Terorisme
Kegiatan terorisme dilakukan oleh
sebagian masyarakat tentu memiliki sebab dan tindakan kekerasan selalu memiliki
justifikasi. Terorisme juga bertujuan untuk mengubah tatanan dunia dan tujuan
ini adalah agenda yang tidak terbatas, diperjuangkan dengan berbagai macam
cara. Tidakan terorisme ini juga muncul akibat dari modernisasi, perasaan
terhina terhadap kelompok tertentu yang merendahkan nilai ataupun tradisi dalam
suatu agama membuat terorisme ini muncul karena ketakutan hilangnya identitas
asli suatu kelompok ataupun golongan. Tindakan yang dilakukan oleh terorisme
selalu melanggar HAM, seperti halnya bom bunuh diri ataupun peperangan yang
melakukan kekerasan, menurut David Apter ia menyatakan bahwa terorisme dianggap
sebagai tindakan yang bertujuan politis, maka kekerasan yang timbul digunakan
para teroris bisa disebut sebagai kekerasan politik. Contoh terorisme di
Chechynya, ada beberapa serangan dari teroris yang dilakukan dengan cara bom
bunuh diri, diketahui bahwa mereka melakukan pembunuhan untuk upaya balas
dendam terhadap perilaku kejam yang dilakukan tentara Rusia yang membunuh
kerabat ataupun suami mereka pada masa itu, dan apa yang mereka lakukan
hanyalah untuk menuntut apa yang menjadi hak mereka. Perasaan terhina kerap
kali menjadi faktor munculnya terorisme, ini juga yang menjadi alasan mengapa
banyak anak muda, orang cerdas, kaya dan berpendidikan mau melakukan serangan
terorisme ataupun serangan bunuh diri.
Dilain hal, jaringan terorisme
memberikan iming-iming bagi siapa saja yang ingin bergabung untuk mendapatkan
kehidupan yang sejahtera, bahkan diiming-imingi hadiah surga bila mereka mati,
karena keyakinan akan jihad yang telah dilaluinya atas nama Tuhan. Kita
menyadari bahwa teroris memiliki proses yang saling berkaitan juga pemahaman
agama yang keliru, kemiskinan, kesejahteraan yang kurang dan frustasi kemajuan zaman,
jika kita ingin memberantasnya, tidak cukup hanya menangkap dan mengeksekusi
para teroris, karena mereka masih memiliki sistem kaderisasi, karena itulah
pemerintah, lembaga, dan juga masyarakat memiliki tanggungjawab yang sama untuk
memberantas terorisme. Ada pandangan mengenai pergeseran terorisme lama dengan
terorisme modern, dalam terorisme modern, target tidak perlu lagi pemimpin
besar, selain itu terorisme modern cenderung tidak mengidentifikasikan dirinya
kedalam bagian kelompok tertentu, juga tidak memakai organisasi dan bisa
menyebar dimana saja.