Jumat, 28 Januari 2022

AKAR-AKAR TERORISME DALAM AGAMA

 


Terorisme Atas Nama Agama

Setiap individu memiliki pengertian yang berbeda terhadap istilah terorisme, definisi dari terorisme pada umumnya adalah refleksi dari kepentingan-kepentingan moral dari individu yang memberikan definisi atau kepentingan politik ataupun lainnya. Keputusan melabeli individu ataupun organisasi sebagai teroris bersifat subjektif tergantung dari orang tersebut menentang individu lain/kelompok untuk tujuan tertentu. Adapun rangkuman ciri-ciri terorisme sebagai berikut :

1.      Kejahatan dilakukan karena ada tujuan ataupun motif politik, agama, dan ideologi lainnya. Hal ini dilakukan untuk mendapatkan keuntungan finansial semata, meskipun hal ini menyebabkan ketakutan-ketakutan di masyarakat.

2.      Perbuatan jahat atau kekerasan  yang dilakukan oleh orang-orang ini dianggap teroris, dilain hal kekerasan dianggap sebagai tindakan terorisme dan bukan hal yang yang terjadi secara kebetulan.

3.      Bisa dikatakan sebagai tindakan terorisme , kekerasan harus mempengaruhi sasaran ataupun audience diluar dari target langsung, dengan hal ini sasaran dari suatu perbuatan bukanlah sasaran utama.

4.      Terorisme melibatkan aktor atau bukan negara yang melakukan kekerasan orang yang tidak terlibat dalam pertempuran yaitu warga sipil ataupun para tentara yang tidak ada dalam peperangan.

5.      Terorisme dilakukan oleh orang yang rasional, dan perbuatan terorisme dilakukan tidak sembarangan, dan sasaran yang akan diserang dipilih oleh teroris.

Dalam sasaran yang akan diserang, ideologi dari sasaran ditentukan karena hal ini akan sangat berpengaruh besar terhadap reaksi dari masyarakat, ideologi menjadi penting karena tidak hanya memberikan kekuatan untuk bertindak, namun juga dapat menerangkan kerangka moral sebagai acuan bagi teroris untuk melakukan aksinya. Ideologi juga menentukan bagaimana anggota melihat kondisi sekitar dan mengidentifikasi musuh dengan menjustifikasi dan memberikan penjelasan kenapa lembaga atau orang tertentu menjadi sasaran.

Adapun terorisme keagamaan dibedakan menjadi terorisme terorisme keagamaan yang memiliki corak politik dan terorisme keagamaan yang tidak memiliki corak politik dan murni karena agama. Untuk perkara pertama, contohnya seperti perlawanan di Irak dan Afganistan, memakai agama sebagai tameng untuk menarik anggota dan melakukan tindakan yang memiliki tujuan politik, dan tujuan ini dapat berupa mendapatkan kekuatan agar dapat menerapkan hukum agama yang sesuai dengan penafsiran mereka atau juga bisa menguasai negara dan menjustifikasi dengan teks-teks keagamaan. Sedangkan untuk yang jenis kedua, tidak memiliki tujuan duniawi namun kelompok jenis inilah yang menimbulkan banyak permasalahan juga ketakutan yang ada di masyarakat, tidakan ini dilakukan pada umumnya untuk balas dendam terhadap sesuatu yang dilakukan oleh seseorang ataupun masyarakat, walaupun pelaku kekerasan ini tidak langsung terkena akibat dari apa yang diperbuatnya kecuali kehormatan dan nama baik agama dan nabi mereka.

 

Terorisme Keagamaan dan Ciri-cirinya

Semangat dan militansi dari keagamaan dapat mempertahankan gerakan teroris dalam jangka waktu yang panjang walaupun harus menghadapi tantangan yang tidak mudah. Contoh, dalam kelompok Thugs yaitu sebuah sekte dalam agama Hindu yang mampu bertahan sekitar 6 abad, Assassins (Nizari yaitu sekte Syi’ah Ismaili) selama 2 abad, dan Zealots-Sicaari (Yahudi) selama 27 tahun, dan ketiga kelompok ini dipandang sebagai pendahuluan dari sejarah terorisme keagamaan kontemporer dan sering juga saat ini digambarkan sebagai model bagi terorisme keagamaan dizaman modern dam karena itulah agama bukan sebuah kamuflase dari suatu perbuatan yang sebenarnya memiliki tujuan ataupun motivasi yang bersifat politik, terorisme yang terjadi dalam agama juga bukan bukti pemberontakan di zaman modern ini, namun agama merupakan motivasi yang rasional bagi para terorisme. Menurut pandangan David Rapoport, ia mengatakan bahwa sumber utama dari perbuatan-perbuatan yang menimbulkan teror suci adalah doktrin agama, sementara itu menurut R. Scoot Appleby mendukung pendapat dari Rapoport dan mengatakan bahwa kekerasan juga terorisme dilakukan atas nama agama pasti dimotivasi oleh kepentingan yang lain. Dan hal ini terbukti dan benar bahwa kekerasan dan terorisme tidak dapat diragukan namun juga tidak hanya untuk kepentingan pribadi saja. ciri utama dari terorisme keagamaan ini dapat disimpulkan bahwa ajaran dan perintah agama menjadi sumber yang transenden, dan motivasi agama merupakan ciri yang paling penting dari aktivitas terorisme ini.

 

 

Adanya Akar Terorisme

Kegiatan terorisme dilakukan oleh sebagian masyarakat tentu memiliki sebab dan tindakan kekerasan selalu memiliki justifikasi. Terorisme juga bertujuan untuk mengubah tatanan dunia dan tujuan ini adalah agenda yang tidak terbatas, diperjuangkan dengan berbagai macam cara. Tidakan terorisme ini juga muncul akibat dari modernisasi, perasaan terhina terhadap kelompok tertentu yang merendahkan nilai ataupun tradisi dalam suatu agama membuat terorisme ini muncul karena ketakutan hilangnya identitas asli suatu kelompok ataupun golongan. Tindakan yang dilakukan oleh terorisme selalu melanggar HAM, seperti halnya bom bunuh diri ataupun peperangan yang melakukan kekerasan, menurut David Apter ia menyatakan bahwa terorisme dianggap sebagai tindakan yang bertujuan politis, maka kekerasan yang timbul digunakan para teroris bisa disebut sebagai kekerasan politik. Contoh terorisme di Chechynya, ada beberapa serangan dari teroris yang dilakukan dengan cara bom bunuh diri, diketahui bahwa mereka melakukan pembunuhan untuk upaya balas dendam terhadap perilaku kejam yang dilakukan tentara Rusia yang membunuh kerabat ataupun suami mereka pada masa itu, dan apa yang mereka lakukan hanyalah untuk menuntut apa yang menjadi hak mereka. Perasaan terhina kerap kali menjadi faktor munculnya terorisme, ini juga yang menjadi alasan mengapa banyak anak muda, orang cerdas, kaya dan berpendidikan mau melakukan serangan terorisme ataupun serangan bunuh diri.

Dilain hal, jaringan terorisme memberikan iming-iming bagi siapa saja yang ingin bergabung untuk mendapatkan kehidupan yang sejahtera, bahkan diiming-imingi hadiah surga bila mereka mati, karena keyakinan akan jihad yang telah dilaluinya atas nama Tuhan. Kita menyadari bahwa teroris memiliki proses yang saling berkaitan juga pemahaman agama yang keliru, kemiskinan, kesejahteraan yang kurang dan frustasi kemajuan zaman, jika kita ingin memberantasnya, tidak cukup hanya menangkap dan mengeksekusi para teroris, karena mereka masih memiliki sistem kaderisasi, karena itulah pemerintah, lembaga, dan juga masyarakat memiliki tanggungjawab yang sama untuk memberantas terorisme. Ada pandangan mengenai pergeseran terorisme lama dengan terorisme modern, dalam terorisme modern, target tidak perlu lagi pemimpin besar, selain itu terorisme modern cenderung tidak mengidentifikasikan dirinya kedalam bagian kelompok tertentu, juga tidak memakai organisasi dan bisa menyebar dimana saja.